KNPB

Victor Yeimo: Setengah abad lebih orang Papua mengalami lompatan peradaban yang amat “Brutal”akibat kolonialisme dan kapitalisme

Posted on

13627053_1051917001551991_5846325866712242832_n.jpg

KUTIPAN KETUA UMUM KNPB PUSAT TN.FIKTOR YEIMO

Setengah abad lebih orang Papua mengalami lompatan peradaban yang amat “brutal” akibat kolonialisme dan kapitalisme. Membuat bangsa ini menjadi minder, inlander, tidak mau bersaing, mengalah, pasrah pada keadaan, hingga takut mengambil resiko revolusi. Bahkan lebih buruk lagi, menerima kolonialisme-kapitalisme sebagai hal yang wajar dan benar. Itu artinya teori-teori kolonial dan kapitalis telah tumbuh subur dalam otak dan sikap orang Papua. Teori apa? teori yang dipelajari dari SD sampai kuliah selesai, juga dari media hegemoni yang lain. Teori, sekali lagi, telah bertugas mengubah dan membuat rakyat Papua memiliki kesadaran palsu.

Pada posisi ini kita butuh teori yang mampu menjadi alat hegemoni untuk melawan hegemoni kolonial dan kapitalisme. Dalam konteks ini (konteks kesadaran), kita butuh kesadaran revolusioner berdasarkan teori revolusi, yakni Marxisme. Teori Marx digunakan untuk menyusun kembali struktur berpikir rakyat tertindas yang mengalami situasi yang persis dialami oleh rakyat West Papua saat ini. Sebab, Marxisme mengandung unsur teori sebagai pemikiran kritis dan praxis sebagai tindakan perubahan. Artinya, rakyat West Papua yang dalam kondisi diatas bisa menjadi kekuatan pendorong revolusi jika memiliki teori kritis. Mengapa? karena revolusi selalu terjadi karena kehendak politik rakyat tertindas bertemu dengan refleksi teori kritis yang ada dalam filsafat.

Proses ini yang terjadi dalam masa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme Belanda dengan kemunculan tokoh-tokoh nasionalis yang melek teori-teori Marxis (Soekarno, Tan Malaka, dll). Begitu juga Timor Leste. Begitu pula Vanuatu, Kanaki, Begitu juga kebanyakan negara-negara kecil di Afrika dan Amerika Latin. Mereka memerlukan teori Marx sebagai pembentuk karakter perlawanan revolusi yang dilakukan dengan cara dan metode yang objektif sesuai situasi penindasan. Mereka tidak melihat Marxisisme sebagai produk barat; atau melihat Marx sebagai orang Yahudi; dan segala latar belakang penggagas teori sosialisme ini. Mereka mengambil teori sebagai pengetahuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk penindasan dan bagaimana rakyat terintas melawannnya.

Karena itu, saat ini memang para penyebar ide-ide utopis dalam kolonialisme dan agen-agen imperialisme paling tidak suka orang Papua mengambil senjata Marxsisme untuk melawan kolonial. Karena menurut mereka melawan kolonialisme yang bertujuan membangun masyarakat sosialis Papua adalah ancaman bagi kepentingan imperialisme di West Papua. Sebab revolusi West Papua bertujuan membangun kembali tata kelola politik dan ekonomi yang bebas dari kolonialisme dan kapitalisme.

 

Penulis : KETUA UMUM KNPB PUSAT TN.FIKTOR YEIMO

Iklan

Jejak Mako Tabuni: Lahir Besar Bersama Rakyat di Jalanan, Matipun Bersama Rakyat di Jalanan

Posted on

Foto Payokwa Payokwacihld Dendy.
Musa Mako Tabuni, ketua I KNPB Pusat yang ditembak mati oleh militer Indonesia di perumnas III Jayapura, empat tahun lalu. (Oktovianus Pogau – SP)

Oleh: Benny Mawel

“Hanya satu kataaaa…. Lawan, Lawan dan Lawan.” Teriak Mako Tabuni sambil mengacungkan tangan kiri, tangan kanannya genggam erat mic di atas  mobil komando (Pick Up hitam) itu.

“Kita tidak boleh kalah, menyerah dan percaya terhadap tipu daya penjajah. Berhenti, berhenti dan berhenti percaya terhadap Jakarta,” tegasnya disambut aplaus.

Begitulah Mako Tabuni, ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berorasi di hadapan ribuan demonstran damai di lingkaran Abepura, kota Jayapura, pada 2 April 2011 silam.

Selang waktu pasca orasi itu hanya setahun. Pada 2012, Polda Papua memasukan Mako Tabuni  ke dalam Daftar Pencaharian Orang (DPO) gelap. Atas tuduhan yang tidak pernah dibuktikan hingga hari, tepatnya pada 14 Juni 2012, pasukan khusus Polda Papua menembak mati Mako Tabuni. Penembakan saat kunyah pinang terakhirnya di pinggiran jalan, putaran taxi Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Papua, pada pukul 9 pagi.

Pasca penembakan, sejumlah media menulis Polisi mencurigai Tabuni terlibat dalam penembakan terhadap Dietmar Pieper (55), peneliti Jerman pada 29 Mei 2012 di pantai Base G Dok 9, terlibat dalam sejumlah kerusuhan di Papua dan penembakan terhadap warga sipil di Kota Jayapura dalam bulan itu.

http:liputan6.com menulis, kecurigaan itu yang diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Polisi Mohammad Taufik. Ia mengatakan, pihaknya menembak Ketua I KNPB karena yang bersangkutan pelaku kerusuhan di Wamena, Jayapura, Provinsi Papua.

“Tentunya pelaku beberapa peristiwa yang terjadi di Papua yang identitasnya atas nama MT. Dia merupakan bagian dari pengurus KNPB, jabatannya ketua 1,” kata Taufik usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR, pada 14 Juni beberapa jam setelah pembunuhan Mako Tabuni.

Kata polisi, penembakan itu pun terpaksa dilakukan karena Mako berusaha merebut senjata dari para eksekutornya. Polisi juga menyebutkan, aparat menemukan satu jenis senjata revolver dan 18 peluru dari saku jaketnya. Senjata itu dikatakan hasil curian.

Anehnya, mengapa Mako yang membawa senjata dengan peluru itu hendak merebut senjata pembunuhannya? Mengapa Mako tidak menembak kalau ada bawa senjata? Aneh juga, aparat Negara Hukum menembak mati orang yang tak bersalah tanpa proses pengadilan, pembuktian dan putusan pengadilan.

Soal-soal itu tidak penting. Masalah-masalah itu sudah menjadi tren di Papua, juga di Indonesia. Tembak dulu, kemudian mencari alasan anggota teroris ataupun organisasi Papua Merdeka. Soal penting dalam diskusi kasus Tabuni adalah, apakah benar Mako Tabuni sejahat yang dituduhkan? Siapa itu Tabuni yang sebenarnya?

Kita butuh orang dekat untuk menjawabnya. Saya bukan orang dekat, namun saya punya catatan menyaksikan dan menulis berita soal Tabuni memimpin demonstrasi selama dua tahun (2011-2012). Saya hanya ingin memperlihatkan sisi lain dari Mako Tabuni yang “Jahat” itu?.

Siapa itu Mako Tabuni?

Mako Tabuni bernama asli Musa Tabuni. Ia Lahir di Pyramid, Lembah Baliem (Kini bagian barat Kabupaten Jayawijaya) pada 1977 (menurut catatan di pusara 1979). Ia lahir dari orang tua bermata pencaharian petani, seperti kebanyakan orang di wilayah gunung waktu itu.

Kakak sulungnya, Jordan Tabuni mengatakan, waktu Musa lahir, wilayah ini dilanda operasi Militer yang disebut Operasi Kikis. Masyarakat menyebutnya gejolak 1977. Masyarakat menghadapi tuduhan, penangkapan, penahanan, pegejaran dan pengusian ke hutan hingga tahun 1980. Mako kecil merasakan dan mengalami langsung gejolak politik itu.

“Mako ikut mengungsi ke hutan. Ia sudah terlibat dalam perjuangan ini sejak kecil,” ungkap kaka kandungnya dalam sambutan pemakaman sang pejuang di Post 7 Sentani, Kabupaten Jayapura, pada 15 Juni 2012.

Asia Human Rights Commission Human Rights and Peace for Papua (ICP) dalam tahun 2013 merilis laporan tentang peristiwa itu dengan judul “Genosida yang Diabaikan: Pelanggaran HAM di Pegunungan Tengah Papua 1977-1978”. AHRC menyebutkan 4.146 orang tewas dalam operasi itu.

AHRC menyebutkan, ribuan orang itu tewas akibat bom-bom yang dijatuhkan, penembakan dan penyiksaan yang dihadapi. Bom jenis Napalm militer Indonesia jatuhkan menggunakan pesawat tempur jenis OV-10 Bronco yang dibeli dari Amerika Serikat, dua helikopter Bell dan dua helicopter Iroquis bantuan pemerintah Australia dan Amerika. Helikoper Iroquis dari pemerintah Australia dan helikopter Bell UH-1H Huey dari Amerika Serikat

Peristiwa itu berlalu. Kata kakak saulungnya, ketika situasi agak aman, Mako Tabuni kembali ke kampung Pyramid. Mako tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain. Ia menempuh pendidikan dasar, sekolah menengah pertama dan menengah atas di SMA Negeri I Kimbim, ibukota distrik kampung kelahirannya. Waktu SMA inilah berteman dengan Bucthar Tabuni, mantan ketua Umum KNPB dan kini menjadi deklator United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Usai menyelesaikan pendidikan, Mako Tabuni meneruskan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi di Manado, Sulawesi Utara. Di bangku kuliah itulah Mako Tabuni bergumul, membaca buku sejarah, bercerita tentang sejarah Papua bersama rekan-rekannya. Pemberontakannya pun tumbuh subur bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) yang dipimpin Markus Haluk (sekretaris jendral) dan Buchtar Tabuni (wakil sekjen).

Ada dugaan, puncak dari pergumulan itu lahirlah resolusi konggres II AMPTPI di Manado pada 2007. Salah satu resolusinya melakukan mogok nasional dengan agenda tutup PT Freeport. Ketika agenda hendak dieksekusi, pentolan AMPTPI berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, mahasiswa Papua menggelar aksi di wilayah masing-masing. Tetapi ada juga yang mengatakan, mahasiswa Papua harus terlibat aktif bersama rakyat Papua. Kelompok yang mengatakan mahasiswa harus terlibat, termasuk Mako Tabuni menyatakan eksodus mahasiswa Papua menjelang akhir 2008.

Mako Tabuni dengan rekan-rekannya yang eksodus mendirikan tenda darurat di lapangan makam Theys Eluay di Sentani. Satu bulan lebih mahasiswa melakukan aktivitas politik di lapangan terbuka itu. Mahasiswa melakukan demonstrasi dan orasi-orasi politik dengan isu utama referendum dan boikot Pilpres 2009.

Situs papuansbehindbars.org menulis, Mako Tabuni memimpin demo damai pada 10 Maret 2008, menyerukan perlunya referendum untuk kemerdekaan Papua Barat daripada ikut berpartisipasi dalam pemilu Indonesia. Walaupun tidak ada penangkapan pada saat demonstrasi berlangsung, beberapa minggu setelahnya, pada 3 April, Mako Tabuni dan Serafin Diaz, mahasiswa asal Timor Leste, ditangkap saat mereka turun dari kapal penumpang KM Labobar di Jayapura.

Menurut papuansbehindbars.org, satu jam setelah itu, laporan Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP) menyebutkan, pihak kepolisian melakukan penyergapan di areal Dewan Adat Papua, DAP. 15 orang ditangkap. Laporan ALDP menjelaskan bahwa sejak mereka diusir dari areal makam Theys Eluay, para muda-mudi aktivis KNPB kerap berkumpul di halaman DAP. 14 pria dan satu wanita ditangkap dan dilepaskan pada hari berikutnya. Tetapi Yance Mote ditahan di penjara dan diadili bersamaan dengan Mako Tabuni dan Serafin Diaz. Ketiganya dikenakan pasal 106 dan 160 KUHP, yang mengacu pada kegiatan makar dan penghasutan.

Dokumen-dokumen persidangan yang disediakan oleh Mahkamah Agung memberikan secara garis besar kasus ketiga pria sewaktu melewati berbagai tingkat pengadilan. Serafin Diaz dan Yance Mote dituduh memberikan pidato-pidato pada saat demonstrasi berlangsung. Tuduhan utama terhadap Mako Tabuni adalah bahwa dia menyewa sebuah taksi dan memasang pengeras suara di atap taksi tersebut untuk menyampaikan pesan kepada para demonstran. Ketiganya akhirnya dibebaskan dari dakwaan makar, tetapi dihukum 18 bulan penjara karena penghasutan.

Perjuangan Mako Tabuni

Perjuangan Mako Tabuni tidak dimulai ketika bergabung dengan KNPB. Mako memulai perjuangan sudah dikatakan awal bahwa, ia mulai berjuang sejak kecil, jauh sebelum dia mengerti baik. Ia harus ikut mengungsi bersama orang tua ke hutan.

Situs papuansbehindbars.org, menyebutkan berbagai insiden dalam hidup dia. Dia mengingat bagaimana ayahnya selalu diselimuti dengan stigma pengacau, dan selalu ditangkap setiap tanggal 17 Agustus dalam upaya menjaga keamanan seputar hari kemerdekaan oleh pihak Indonesia. Anaknya sendiri akhirnya selalu harus mengunjungi barak militer Indonesia, dimana ayahnya ditahan untuk membawa makanan.

Mako Tabuni akhirnya mendapat kurungan penjara pertama bagi dirinya sendiri saat pindah ke Jayapura pada tahun 1999. Dimana dia ditahan oleh Kopassus dan dituduh memberikan bantuan kepada ketua TPN-OPM, Matias Wenda. Pada waktu itu, dia tidak ditahan untuk waktu yang lama, tetapi kemudian ditahan lagi di Timika pada tahun 2007, lagi-lagi dengan tuduhan menjadi anggota TPN. Dia didakwa dengan tuduhan makar dan ditahan selama 7 bulan, namun kemudian dilepas tanpa kasusnya diadili di pengadilan.

Pemenjarahan itu tidak membatasi ideologi Mako Tabuni. Ia memimpin satu demo besar pada 2 Mei 2012. Agendanya menolak aneksasi West Papua pada 1 Mei 1963. Penolakan dihadiri ribuan massa aksi dari sejumlah sudut kota. Massa berkumpul dan berorasi di Taman Imbi Jayapura, tepatnya di depan bekas gedung New Guinea Raad  (kini gedung Dewan Kesenian Tanah Papua, yang tidak pernah ada gerakan apapun itu).

Orasi-orasi politik secara bergantian, kadang emosional dan kadang diplomatis itu Tabuni tuntun. Saking tidak setujunya dengan aneksasi, Tabuni mengakhiri orasi-orasi politik sejenak sekitar 5 menit. Ia memanjat gedung bekas New Guinea Raad itu dan menulis di tembak depan gedung itu “Milik New Guinea Raad” dengan pilox hitam.

Sekalipun begitu, demo ini berakhir dengan damai.  Demo yang berlangsung dengan damai itu dinodai dengan penembakan terhadap Terjoli Weya, seorang mahasiswa asal Kabupaten Tolikara. Weya ditembak di depan Koramil Abepura saat pulang aksi. Ia ditembak sang sniper, ketika itu Weya duduk di cap truk yang demonstran tumpangi.

Penembakan Weya ini mengawali penembakan-penembakan terhadap aktivis KNPB nanti, termasuk penembakan terhadap Mako Tabuni. Penembakan itu macam teror terhadap aktivis Papua, tetapi tidak berhasil membatasi langkah Mako Tabuni bersama KNPB. Ia kembali memimpin satu demo akbar lagi, menghadirkan 5 ribu rakyat Papua turun jalan pada 2 Agustus 2011. Abepura menjadi lautan manusia yang ingin menentukan nasib sendiri. Kepada ribuan massa itu, Mako memperlihatkan ideologi perlawananya bukan teror, intimidasi dan pembunuhan. Ia mengajak ribuan massa itu mengikrarkan janji perlawanan damai.

“Angkat tangan kirimu sebagai simbol perlawanan damai. Kita mempertahankan simbol ini selama 30 menit. Kita mau membuktikan, kita mampu berjuang dengan damai atau tidak. Siapa yang tidak bertahan, ia tidak akan pernah bertahan dalam perjuangan damai ini,” ajak Mako.

Ajakan itu pun dapat diikuti ribuan massa itu dengan tertib. Mako Tabuni pun menghitung waktu di HP Nokia Hitam itu sambil mengacungkan tangan kirinya. Hingga 30 menit berlalu, sebagian besar dari massa aksi mampu bertahan mengangkat tangannya. Massa aksi tidak peduli dengan terik matahari dan keringat yang mengalir deras di badan jalan, lingkaran Abepura itu. Polisi dan para intel dan jurnalis yang kawal demo menyaksikan drama itu.

“Rakyat Papua sudah membuktikan bahwa kita mampu melakukannya. Kita tidak perlu mengharapkan orang lain datang menolong kita. Rakyat Papua harus bangkit mencatat sejarahnya sendiri,” tegasnya.

Tabuni menyadari betul, mencatat sejarah, memperjuangkan kemerdekaan itu bukanlah retorika belaka, melainkan perlawanan nyata. Rakyat Papua harus terlibat aktif, meninggalkan budaya bicara-bicara, membedakan dari kelompok ini dan itu, tetapi bersatu dalam gerakan rakyat dengan satu budaya kerja nyata. Kerja-kerja nyata itulah yang dapat mewujudkan cita-cita keluar dari genggaman pendudukan bangsa kapitalis dan barbar.

“Kita harus lawan, tanpa perlawanan kemerdekaan itu mimpi siang bolong. Kata-kata tidak akan menjawab kemerdekaan. Kerja nyata menjawab kemerdekaan itu,” tegas Mako.

Kata dia, perlawanan menentukan nasib sendiri itu bukan hal yang terpisah, melainkan hak mendasar  yang melekat; hak politik yang tidak bisa digangu gugat oleh siapapun. Namun, hak itu, Indonesia, Amerika dan Belanda batasi dengan mengobjekkan orang Papua dalam membicarakan status politik Papua. Orang Papua tidak dilibatkan dalam peralihan kekuasaan dari Pemerintah Belanda ke pemerintahan sementara atau United Nation Temporary Executive Authority (UNTEA), UNTEA ke Indonesia.

“Puncak permainan itu rekayasa Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969. Indonesia tidak memberikan kebebasan orang Papua menentukan nasib sendiri. Indonesia memaksakan Papua menjadi Indonesia dengan dukungan kapitalis Amerika,” ujarnya dengan tegas.

Kata Mako, pemaksaan itu terjadi secara tidak adil, sistematik dan militeristik. Indonesia membawa sistem demokrasi Jawa, musyawarah-mufakat, mengabaikan hak memilih 700.000 orang Papua. 1.025 orang yang mewakili orang Papua.

“Jumlah itu pun yang betul-betul memilih 75 orang saja. Lebihnya tidak jelas,” tegasnya.

Kata dia, ketidakjelasan, permainan dan pelanggaran HAM itu mengawali peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang sedang berlangsung dalam pendudukan Indonesia. Pembunuhan terus berjalan dengan alasan kriminal dan separatis demi menguasai kekayaan alamnya. Isu separatis dan kriminal menjadi kata ampuh bagi penjajah mendiamkan orang Papua yang dianggap mengganggu atau menghalangi kepentingan ekonomi.

“Kolonial melakukan semua demi kepentingan mengamankan kekayaan alam Papua. Orang Papua hanya menjadi budak dan kambing hitam,” tegasnya.

Kata Mako, rakyat Papua tidak bisa membiarkan situasi ini terus berlangsung. Rakyat Papua harus bangkit menuntut hak politiknya. Hak politik itu akan menjadi nyata hanya dengan komitmen perjuangan yang berani, serius, terus menerus, berwibawa dan taruhan nyawa.

“Lebih bagus kita hancur, musnah dalam melakukan perlawanan mempertahankan harga diri, daripada ditindas dan diperbudak sampai habis,” tegasnya pada 2 April 2012.

Mako Tabuni betul-betul wujudkan kata-katanya dengan perlawanan damai. Perlawanan hanya dengan kekuatan massa rakyat, argumen-argumen sejarah yang benar, cerdas dan penyerahan diri yang total kepada perjuangan pembebasan bangsa.

“Penjajah tidak boleh tangkap saya hidup. Mako lahir dan besar di jalanan. Matipun bersama rakyat di jalanan,” ungkap rekannya kepada penulis mengingat ungkapan Tabuni seminggu sebelum penembakan.

Tabuni Dikenang: “Mako itu Bapa, Bukan Pemimpin”

Figur sosok Mako Tabuni sulit dilupakan. Setiap tahun, KNPB selalu gelar ziarah ke makam Mako Tabuni di kampung Sere. Tahun 2016,  KNPB gelar renungan sekaligus makan pinang bersama di tempat Tabuni ditembak mati tim khusus Polda Papua. Makan pinang bersama ini untuk mengenang mendiang Mako Tabuni.

“Kita berdoa di sini saja, kita tidak pergi ke kuburan. Kita harus menghormati dia. Dia adalah guru dalam perlawanan,” kata Agust Kossay, ketua I KNPB Pusat kepada jurnalis di putaran taksi Waena, Kota Jayapura, Papua, Selasa (14/6/2016).

Kata dia, Mako Tabuni memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam perlawanan. Terutama, keberaniannya menyerahkan seluruh hidupnya demi pembebasan bangsa dan demo mendirikan sebuah bangsa yang merdeka.

“Dia mempertaruhkan segalanya. Kami tidak bisa balas kami hanya bisa memberi penghormatan. Semua orang bisa dalam situasi aman itu biasa, tetapi dalam situasi darurat itu luar biasa. Mako yang melakukan itu,” tegas Kossay.

Juru Bicara KNPB pusat, Bazoka Logo mengatakan, Mako Tabuni sama dengan aktivis lain yang sudah tewas di medan perjuangan, namun ada hal-hal unik, yang terpancar dari figur Mako Tabuni.

Pertama, Mako Tabuni tidak pernah menunjukkan diri pemimpin. Ia menunjukkan sikap kebapaan. “Dia itu seorang bapa, bukan pemimpin” kata Logo.

Kata dia, sikap kebapaan itu muncul dalam setiap kehadirannya bersama aktivis KNPB. Dia tidak pernah memerintah layaknya seorang pemimpin. Dia malah bertindak seorang bapa yang sedang mendidik anak.

“Kalau dia bilang melakukan ini, dia selalu mengajak bersama-sama melakukan itu. Bagi selebaran. Dia ikut membagikannya,” ujar Logo sambil mengenang sang bapa.

Kedua, Mako Tabuni tidak pernah mengeluh. Mako Tabuni selalu mengajak melakukan perjuangan dengan sumber daya yang ada pada KNPB.

Ketiga, Mako Tabuni seorang pendengar yang baik dan rendah hati. Dia tidak pernah membantah, membela diri dan klarifikasi ketika anggota menuduh atau marah atas sejumlah masalah organisasi.

“Dia hanya mengatakan minta maaf dan senyum saja,” katanya.

Keempat, Mako Tabuni seorang revolusioner yang tidak pernah menyerah. Dia mempunyai komitmen dengan keberanian mental yang sangat luar biasa.

“Keberanian mental itu milik Mako. Tidak ada yang bisa sama dengan dia,” ujarnya.

Kelima, seorang Mako Tabuni tidak pernah bicara dua kali. Dia seorang bapa yang bicara sedikit, kemudian melaksanakan yang dia katakan.

“Kalau dia bilang satu kali, kita tidak laksanakan. Dia yang melakukannya,” kata Logo.

Begitulah Mako Tabuni ada di benak aktivis KNPB pasca pembunuhannya. Singkat kata, Tabuni telah tiada, sudah 4 tahun. Namun ideologinya, teladan dan pesannya mengedepankan perlawanan damai masih hidup di mulut-mulut aktivis KNPB. Begitu ka?

Penulis adalah wartawan Koran Jubi dan tabloidjubi.com

 

Sumber : http://suarapapua.com

KNPB TUNTUT REFERENDUM TIDAK BENTENTAGAN DENGAN PANCASILA

Posted on

Hasil gambar untuk knpb
Aktifis KNPB

KunumeWone, Jayapura–KNPB berjuang Papua Merdeka tidak bermaksud untuk menghancurkan NKRI dan Ideologi Pancasila bahkan juga merusak semboyan bineka tunggal ika tetapi, Perjuagan knpb jelas menutut hak politiknya.

Tuntutan rakyat Papua yang disuarakan oleh KNPB hak penentuan nasib sendiri (Self Determination) bagi rakyat papua barat melalui mekanisme Referendum itu tidak merusak nilai-nilai Ideologi Papncasila.

Sesungguhnya tuntutan Referendum yang disuarakan KNPB itu hanya sebuah solusi terbaik untuk mengahiri konfilik politik di Papua, yang mengakibatkan pelanggaran HAM jadi sorotan dunia internasional saat ini.

Pemerintah Indonesia dan aparat kepolisian tidak perlu alergi degan referendum karena KNPB menawarkan solusi terbaik dan demokratis kepada indonesia.

Pemerintah dan aparat kepolisian harus menerima tuntutan referendum yang ditawarkan knpb secara bijak, karena indonesia negara demokrasi, apabila pemerintah memberikan opsi referendum di papua akan memajukan waja dan meyelamatkan demokrasi indonesia.

Dilihat dari perjuagan Knpb dan Tuntutan Referdum maka bukanlah musuh Negara, Sehingga setiap aktivitasnya harus dibubarkan, harus ditangkap sewenag-wenag, tidak harus dibunuh dan dipenjarakan sebab KNPB tidak bertujuan untuk menghancurakn Ideologi Pancasila.

Contohnya: Timor Leste berjuang sampai dengan referdum dilakukan tidak menghancurkan indonesia dan idologinya, sebaliknya membantu indonesia keluar dari krisis keuagan, meringankan beban APBN dan menyelamatkan waya demokrasi indonesia di mata dunia internasional.

Dengan demikian apabila pihak aparat kepolisian dan orang yang cari makan di Indonesia mengatakan organisasi KNPB radikal, KNPB bertentagan degan pancasila dan menghancurkan negara itu tidak dapat dibenarkan. Sebaliknya tuntutan knpb untuk membantu Indonesia agar tidak hancur ideologinya, karena Referendum terjadi di Papua kemudian hasilnya kita belum tau, apakah rakyat papua ingin merdeka atau tetap dengan indonesia?hasil referendum seperti apa pun tidak akan membuat pancasila hancur.

Tujuan dari tuntutan referendum oleh knpb itu sebanarnya untuk menciptakan kedamaian, keadilan, kebenaran dan kemakmuran rakyat yang merupakan nilai-nailai ideologi pamcasila itu sendiri. Karena akar konfilik politik atau satatus politik papua itu belum disentu dan diselesaikan secara damai dan bermartabat melalui referendum maka Indonesia tidak akan pernah mewujudkan ideologi pancasila itu yang merupakan tujuan kemetdekan indonesia.

Pemabagunan inperastruktur yang dicanangkan resim jokowi di papua bukanlah persoalan supsantif yang harus diprioritaskan dan bukan pemintaan rakyat papua. Pembagunan itu hanya untuk kepetigan insfestor dan migran dan tidak menguntungkan rakyat papua.

Dengan demikian pemerintah harus menerima solusi yang ditawarkan KNPB, yaitu selenggarakan referendum yang diawasi oleh dunia internasional atau UN. Oleh karena kami sampaikan kepada pemerintah Indonesia dan aparat kepolisian di papua agar hentikan penagkapan, intimidasi, teror dan penyiksaan terhadap aktivis KNPB.

Kami juga menyampaikan kepada publik Indonesia dan rakyat papua bahwa, jangan samakan knpb degan organisasi radikal lain di indonesia seperti HTI dan FPI karena perjuagan mereka dan perjuagan knpb serta aksi di lapagan pun sagat berbeda.

Berhenti krikinalisasi KNPB dengan propagada dan skenario yang diciptakan oleh pihak tertentu yang ingin menghancurkan papua.

Kepolisian hentikan penagkapan aktivis knpb yang berjuang secara damai dan bermartabat dengan mengedepankan nilai nilai kebenaran dan hak asasi manusia HAM. Segera bebaskan Ketua I KNPB Wwilayah Mimika Yanto Arwekion karena pasal makar yang ditudukan itu sagat pormatur karena tidak ada uncur makarnya sebab mereka lakukan ibadah dirumah mereka yang dijamin oleh undang-undang.

Kami juga sesalkan penagkapan 77 aktivis KNPB di merauke yang melakukan aktivitas oerjuagan secara damai. Seharusnya polisi sebagai penaggung jawab keamanan di papua menyamin keamanan rakyat papua degan menakap para pembunuh manusia dengan aksi kiriminal di papua kuhusus kota jayapura sebagai salah satu bentuk rasa aman bagi masyarakat bukan menangkap aktivis knpb eewnag-wenag. Penagkapan aktivis knpb bukan solusi menyelesaikan persoalan di papua dan , tidak akan menghapus ideologi papua merdeka yang sudah ada sebelum indonesia ada di west Papua,

Solusi demokratis dan final hanya referendum, karena selama hak penentuan nasib sendiri belum dilaksanakan bagi rakyat papua maka tuntutan papua merdeka akan selalu hidup dan tidak pernah indonesia kubur dari bumi cendrawasih.

Penulis: ONES SUHUNIAP Sekjend KNPB Pusat.

Pasca kunjungan Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Indonesia Ke Watu Pinawetengan Sulawesi Utara

Posted on Updated on

Foto Samkakay Yanolek Patul.
Tuan. Hiskia Meage, bersama dengan kawan-kawan Minahasaland Merdeka

KunueWone, Manado-2 Juli 2017. Tuan. Hiskia Meage, bersama dengan kawan-kawan Minahasaland Merdeka pergi mengunjungi orang Tua pertahanan Minahasaland Merdeka di Pinawetengan. Sekitar pukul 09. Pagi waktu setempat star dari pusat kota Manado ke Pinawetengan dan tiba disana sekitar pukul 15.30. Wit.

 “Karena duduk bersama, bercerita bersama, makan/minum bersama, jalan bersama, berfikir bersama tentang kebangsaan sesuai Allah diwariskan dimuka bumi ini wajib diangkat bersama”, demikian menurut Hiskia Meage, Ketua KNPB Konsulat Indonesia melalui akun facebook pribadinya pada hari Kamis, (1/06/17).

Hiskia saat di hubungi melalui sambungan telepon mengatakan untuk sementara saya ada keluar kota bersama kawan-kawan dari Minahasaland pergi jenguk orang Tua-Tua dari Minahasaland diluar kota. Dalam keterangannya pasca kunjungan ke Pinawetengan kepada Admin.

“Kami saat ini bersama orang tua lagi duduk cerita-cerita sambil tukar pikiran dan berbagi pengalaman. Saya sampaikan kepada mereka bahwa patut Generasi muda menjadi tolak ukur dan wajib mempertahankan yang diwariskan sesuai zhang khalik”. Lanjutnya, seperti Pesan DR. Sam Ratulangi bawah: “Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci, tradisi dan budaya dari para leluhurnya;, kata Hiskia kepada Admin melalui sambungan telepon.

Kawan-kawan Minahasaland Merdeka

Berikut Foto – fotonya:

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Foto Samkakay Yanolek Patul.

Sumber: Aktivis KNPB Konsulad Dewa Zeus Youmbewa Chambu

KNPB Timika melakukan acara bakar batu untuk mengibarkan kembali bendera KNPB sebagai symbol perlawanan Rakyat papua

Posted on

Foto Melky M Ugapigu.
Foto, Acara Bakar batu di kantor KNPB Timika

KunumeWone, KNPBTimika—-Pada 1 / 06 / 2017 , di jln. Sosial Kebun siri , KNPB Wilayah Timika melakukan acara bakar batu yang bertujuan untuk menaiki serta mengibarkan kembali bendera KNPB sebagai symbol perlawanan Rakyat Papua ,

Yang telah digrebek dan diturunkan oleh Satuan TNI POLRI , BRIMOB , DENSUS 88 dan KOPASSUS serta BIN BAIS Pada tanggal 30-05-2017 saat kegiatan Penutupan Petisi Manual Sewilayah Bomberay.

Kegiatan ini dimeriahkan oleh semua sector yang telah dilantik dalam wilayah timika , setiap sector memeriahkan kegiatan ini dengan cara menyumbangkan beberapa Bama antara lain membawa ayam hidup 2-3 ekor , aqua 2-3 karton dan ubi-ubian serta ada beberapa sector yang menyumbang babi sebanyak 4 Ekor .


Dalam acara kegiatan tersebut pemanahan Babi pertama yang dilakukan langsung oleh ketua Knpb Timika Tn, Steven Itlay dan setelahnya babi yang lainnya disesuaikan oleh Rakyat yang mewakili dari PRD dan OPM.Acara kegiatan Bakar Batu ditanggani oleh Setiap Pasukan Millitan Pusat Maupun sector hingga acaranya tergotong royang dan singkat untuk proses Pembungkusannya.


Inti acara , Doa dimulai pada jam 02-00 yang dipimpin oleh pdt.Daniel Bagau dan Firman Tuhan dibawakan oleh Ptd.Deserius Adi.


Mengheningkan cipta sekaligus doa penaikan bendera Knpb dipimpin oleh Pdt. Deserius dan Pdt.Daniel menyerahkan Bendera Knpb kepada Ketua Steven Itlay dan didampingi ketua Fraksi Bomberay serta Ketua Knpb Kaimana untuk di naikkan.


1 kesan pesan oleh ketua umum lembagai politik bangsa papua atas nama wilayah Bomberay Timika Rakyat Papua harus mengetahui bahwa papua merdeka tidak akan lama lagi tiba di Papua . maka sisah daripada waktunya yang ada ini kita harus semangat untuk berjuang tanpa membedakan Gunung dan Pantai.


2 ketua umum KNPB wilayah timika atas nama STEVEN ITLAY

( 1)menyampaikan bahwa seluruh rakyat bangsa papua berhak berbicara papua merdeka


(2) kemarin pada sidang UPR PBB ada 10 negara yang mendesak kepada indonesia supaya pasal makar yang sedang ia gunakan itu segera di hapukan


( 3) seluruh dungan petisi wilayah bomberai timika semua sudah berhasil dan petisi adalah tolak ukur bagi bangsa Papua untuk Merdeka .


Badan pengurus sektor serta Anggota yang datang membanjiri Kantor Papua Merdeka Kira-Kira Berjumlah 500 lebih orang , dan acara pembagian Bakar batu serta Penaikan bendera Knpb berakhir dengan Tarian Masing – Masing Dihalaman Kantor Papua Merdeka .knpb prdm wilayah bombray.

Berikut FOTO-FOTO Kegiatan Bakar Batu :

Foto Melky M Ugapigu.Foto Melky M Ugapigu.

Foto Melky M Ugapigu.

Foto Melky M Ugapigu.

Sumber: Aktivis KBNPB Melky M Ugapigu

Salamat hari Pancasila buat pulau Jawa, Madura dan Sumatera.

Posted on Updated on

Foto Alexander Nekenem.

Pancasila punya siapa? RI atau NKRI?


Kalau RI, kembalikanlah pancasila dan merah putih ke pemiliknya yang sah, karena isi perjanjian linggarjati, perjanjian roem royen dan konperensi meja bundar menyatakan secara de facto dan de jure wilayah kekuasaan RI adalah Jawa, Madura dan sebagian Sumatera.

Kalau pancasila punya NKRI.

Adakah surat penyerahan kedaulatan kepada NKRI?
Dimana wilayah sah NKRI?
Apa dasar hukum NKRI?
Adakah undang undang dasar NKRI?
Tahun berapakah NKRI terbentuk?

Apakah pancasila punya Maluku, Papua dan Sulawesi?
TIDAK!

Maluku, Papua, dan Sulawesi tidak mempunyai hubungan ketatanegaraan dengan RI.
Maluku, Papua dan Sulawesi tidak mempunyai hubungan ketatanegaraan dengan Republik Indonesia Serikat.
Maluku, Papua dan Sulawesi juga tidak mempunyai hubungan ketatanegaraan dengan NKRI, karena NKRI baru terbentuk pada tanggal 17 agustus 1950 oleh Ir. SOEKARNO, ketika dia melikuidasikan Republik Indonesia Serikat menjadi sebuah nama “NKRI” di Jakarta pada tanggal 15 Februari 1950.

Bagi Rakyat West Papua ideologi unik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, dengan ada kesadaran akan hal ideology Pancasila.
Pada 01 Juni 1945 – 01 Juni 2017 merupakan Hari Pancasila, sebab Pancasila di Papua itu pemilik falsafahnya sendiri sudah menginjak-injak pakai sepatu laras dan bayonet, cabik-cabik buang di got, tidak ada arti.
Saya bangga dengan Pancasila, tetapi tidak dengan Indonesia yang menggunakan Pancasila sebagai ideologi negara. Momentum satu tahun yang lalu, ketika saya berteriak di jalan agar ideologi negara harus di jaga dan di terapkan karena itu merupakan jati diri anak bangsa dan negaranya sendiri. 
Tetapi, semua hanya simbol semata yang mungkin hanya diterapkan oleh seberapa daerah, di Papua khususnya nilai-nilai Pancasila, sungguh hanya sebatas simbol dan tulisan tetapi tidak pernah di terapkan dalam kehidupan orang Papua.
Perjalanan panjang Soekarno di Indonesia Timur, khusus Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadilkan peristiwa sejarah Indonesia. Pancasila dan Burung Garuda adalah hasil yang diberikan secara cuma-cuma dari adat dan budaya bangsa Timur kepada negara bekas.
Jajahan Hindia – Belanda yang kini Indonesia namun Soeharto bersekongkol dengan Tahayul dan Penjahat Militer, membunuh dan menginjak-injak bangsa Timur, pemilik pusaka negeri ini.
Bangsa Timur bangsa Inlander Nusantara, pemilik tanah Nudantara sebelum kedatangan bangsa China dan Melayu ke Nusantara. Jasmerah jangan sekali-kali meninggslkan sejarah.
Aku telah belajar untuk diam dari orang yang banyak omong, belajar toleran dari orang yang tidak toleran, dan belajar menjadi ramah dari orang yang tak ramah, namun, sungguh aneh, aku tak berterima kasih pada orang –orang ini.
Oleh sebab itu, Hari Pancasila 01 Juni 1945 – 01 Juni 2017 sebagai symbol yang mesti di rayakan karena secara realitanya menjadi kehancuran bagi bangsa dan rakyatnya. Namun, pancasilanya dan ideologi bangsa di seluruh dunia hanya sebagai simbol semata negara – negara lain, baik daerah, nasional bhkan internasional atau dunianya.
Penulis: Aktivis KNPB Alexander Nekenem

Ternyata Theresia Lampyiopar Dibunuh oleh Suaminya, BIN, TNI, Dan POLRI Bermain. Orang Papua Kena Getahnya

Posted on Updated on

Aparat kepolisian mengamankan lokasi penemuan mayat di depan PLTD Waena, Kota Jayapura (foto istimewa) 

KunumeWone, Jayapura–Orang Papua Asli (OAP) Jangan terjebak dalam adunan donat yang dimainkan BIN, TNI, dan POLRI di Papua.

Kasus pembunuhan yang terjadi terhadap Theresia Lampyiopar di depan PLN Waena Jumat Pagi (19/5) pukul 05.40 WIT. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh suami ke tiganya sendiri.

Akibat adunan donat yang dimainkan BIN, TNI, dan POLRI ini orang Papua menjadi korban lagi, orang Papua (dari gunung) dituduh sebagai pelaku. Polisi kejar pelaku dan menembak tiga orang di Somel Waena (setelahnya kemudian Polisi klarifikasi mereka terkait kasus lain, #aneh).

Keluarga korban (orang Maluku) palang jalan dan cari orang gunung. Dalam pemalangan jalan tersebut Polisi biarkan amuk warga Maluku, akibatnya Pius Kulua dibunuh dan adiknya kritis. Sebelum mengungkap siapa pelaku pembunuh Theresia ini (apalagi Pius yang konon diduga ditikam Polisi, #kurang Waras).

Dan dalam Kasus lain, pembunuhan Dosen UNCEN di Buper pada kamis (11/05) dini hari sekitar pukul 00.30 WIT. pembunuhan tersebut Polisi main tuduh saja sembarangan, jika pelaku pembunuh Dosen Uncen di Buper adalah anggota KNPB.

Kemudian kasus pembakaran Alkitab pada hari Kamis (25/5). Melalui media propagandanya (Papuanews.id), mereka tuduh KNPB sebagai dalang protes pembakaran Alkitab di Padang Bulan. Nyatanya pelaku pembakaran Alkitab adalah oknum TNI (Baca: Oknum TNI Diduga Bakar Alkitab di Papua)

Miris melihat rangkaian peristiwa-peristiwa ini, rangkaian kasus-kasus ini tidak ada bukti yang kuat dilakukan oleh orang Papua namun diadudombahkan terhadap orang Papua.

Indonesia telah berhasil bangun stigma “orang gunung” sebagai penjahat, dan KNPB sebagai dalang. Apapun kejahatannya, mind set publik tertuju pada “orang gunung”, ciri-ciri gimbal dan brewok sebagai pelaku. Sementara, mereka membangun mind set “orang pantai” sebagai bagian dari Indonesia, dan orang pendatang adalah warga NKRI yang memiliki hak superioritas. Terminologi gunung-pante dan stigma seperti itu lasim digunakan kolonial sebagai taktik operasi pecah belah, pembunuhan dan penghancuran basis perjuangan rakyat.

Saya menulis ini kembali, agar orang Papua mengerti kiat-kiat kolonialisme dalam bentuk yang nyata. Mereka atur konflik dengan sistematis dan terstruktur.

Bayangkan, berbagai kasus kejahatan Polisi tak tersentu hukum, malah KNPB dikriminalisasi terus-menerus. Polisi tembak rakyat dibiarkan, tapi KNPB hanya ibadah digrebek dan ditangkap.

Benar kata pimpinan Gereja Papua bahwa tidak ada masa depan orang Papua dalam kekuasaan Republik Indonesia. Benar kata KOMNAS HAM: “Pelanggaran HAM harus dibawa ke Internasional, karena Indonesia (Komnas HAM) sudah tidak bisa atasi pelanggaran HAM Papua. Benar kata pejuang kemerdekaan Papua: “lepas dari kolonialisme Indonesia adalah satu-satunya jalan selamat bagi bangsa Papua”.
[ Kaonak Mendek ]

Catatan: Vicktor YeimoVicktor Yeimo